Friday, 29 November 2013

Materi Awal Kejadian Manusia

A. Awal Kejadian Manusia Dan Kandungannya

Untitled-1as QS AL- MUKMINUN :12-14
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ1
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ 
Artinya:
12.  Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13.  Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14.  Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Isi Kandungan :

Allah swt menciptakan manusia berasal dari sari pati tanah.hal ini dapat dijelaskan bahwa setiap yang di makan manusia pasti bermuara dari tumbuh-tumbuhan sedangkan kita tahu bahwa mengambil makanan dari unsur- unsur hara yang ada pada tanah. Dengan demikian secara langsung tidak hidup manusia di topang oleh sari pati tanah yang diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang kemudian oleh allah swt dijadikan tenaga, air mani dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya manusia berasal dari tanah.

Proses penciptaan manusia dimulai dari air mani sampai beberapa minggu menjadi segumpal darah lalu menjadi segumpal daging. Lalu daging itu ada bagian dalamnya yang kemudian dijadikan tulang belulang yang kemudian oleh allah dibungkus dengan daging. Setelah berumur 4 bulan sepuluh hari di dalam rahim, allah swt meniupkan roh, sehingga menjadi manusia. Dan allah menjadikan manusia di dunia ini sebagai makhluk yang sempurna dan dimuliakan. Kewajiban manusia untuk menjaga martabat agar tidak terjatuh ke dalam jurang kehinaan.
Manusia adalah makhluk Allah SWT yang paling mulia diantara semua makhluk.kelebihan manusia dengan makhluk yang lain nya terletak pada jasmani dan rohaninya. salah satu perbedaan terbesar terletak pada akal pikiran manusia.Dengan akal pikiran itu,manusia dapat membedakan antara perbuatan baik dan buruk,antara yang khalal dan haram.Dengan akal pikirannya,manusia akan sadar sebagai hamba Allah SWT yang harus melaksanakan kewajiban menyembah kepada-Nya. Manusia juga harus dapat menjalin hubungan kemasyarakatan. Yang terpenting manusia harus dapat bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang di berikannya.

B. Hakekat Manusia
Menurut Sastraprateja (yang dikutip oleh Ramayulis dalam buku Ilmu Pendidikan Islam), mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang historis. Hakekat manusia sendiri adalah sejarah, hakekat manusia hanya dapat dilihat dalam perjalanan sejarah dalam sejarah bangsa manusia.
Kalangan pemikir di abad modern, juga membahas tentang hakekat manusia yang dapat dijumpai. Alexis Carrel ( dikutip oleh Ramayulis dalam buku Ilmu Pendidikan Islam), mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang misterius, karena derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan perhatiannya yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada di luar dirinya.
Ibn Arabi (dikutip oleh Ramayulis), melukiskan hakekat manusia dengan mengatakan bahwa tak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia. Allah SWT membuatnya hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, berbicara, mendengar, melihat dan memutuskan, dn inilah merupakan sifat-sifat rahbaniyah.
Murthada Mutahhari (dikutip oleh Ramayulis), melukiskan gambaran al-Qur’an tentang manusia sebagai berikut : AAl-Qur’an menggambarkan manusia sebagai suatu makhuk pilihan tuhan, sebagai khalifah-Nya di bumi, serta sebagai makhluk yang semi samawi dan semi duniawi yang dalam dirinya ditanamkan sifat mengakui tuhan, bebas terpercaya, rasa tanggung jawab tehadap terhadap dirinya maupun alam semesta, serta dikaruniai keunggulan untuk menguasai alam semesta, langit dan bumi. Manusia dipusakai kearah kecenderungan kepada kebaikan dan kejahatan. Kemajuan mereka dimulai dengan kelemahan dan ketidakmampuan yang kemudian bergerak kearah kekuatan, tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan mereka, kecuali kalau mereka dekat dengan tuhan dn memngingat-Nya. Kapasitas mereka tidak terbatas, baik kemampuan dalam belajar, maupun dalam menerapkan ilmu. Mereka memiliki keluhuran dan martabat naluriah. Motivasi dan pendorong mereka dalam banyak hal, tidak bersifat keberadaan. Akhirnya mereka dapat secara leluasa memanfaatkan nikmat dan karunia yang dilimpahkan Allah kepada mereka namun pada saat yang sama, mereka menunaikan kewajiban mereka kepada tuhan.
Untuk mengetahui definisi hakekat manusia secara utuh, di antaranya dapat dilihat pengertian manusia dari segi kata yang digunakan

1. Ditinjau dari segi kata (istilah) yang digunakan
Al- Qur’an memperkenalkan tiga kata yang bisa digunakan menunjuk pengertian manusia, yaitu:

a. Al-insan, terbentuk dari kata nasiya yang berarti lupa. Penggunaan kata al insan pada umumnya digunakan menggambarkan pada keistimewaan manusia penyandang predikat khalifah di muka bumi, sekaligus dihubungkan dengan proses penciptaannya. keistimewaan tersebut Karena manusia memiliki potensi dasar, yaitu fitrah, akal dan kalbu. Potensi ini menempatkan manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan tertinggi dibanding makhluk-Nya yang lain.

b. Kata al-Basyar, secara etimologi, al-basyar merupakan bentuk jamak dan kata al-basyarat yang berarti kulit kepala, wajah dan tubuh menjadi tempat tumbuhnya rambut. Pemaknaan manusia dengan al-basyar memberikan pengertian bahwa manusia adalah makhluk biologis serta memiliki sifat-sifat yang ada di dalamnya seperti makan, minum, perlu hiburan, seks, dan lain sebagainya. Kata al-basyar ditunjukkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali nabi dan rasul. Firman Allah SWT yang artinya :
Katakanlah : “sesungguhnya Aku (Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kamu” (QS. 18 : 10)
Penggunaan kata al-basyar mempunyai makna bahwa manusia secara umum mempunyai persamaan dengan ciri pokok dari makhluk Allah lainnya secara umum seperti seperti hewan dan tumbuhan .

c. Kata al-nas, menunjukkan pada hakekatnya manusia sebagai makhluk social. Dan ditujunjukkan kepada seluruh manusia secara umum tanpa melihat statusnya apakah beriaman atau kafir. Selain itu, al-nas juga dipakaikan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan bahwa karakteristik manusia senantiasa berada dalam keadaan labil.

C. Kedudukan Manusia
.QS ADZ ZARIYAT :56
Kesatuan wujud manusia antara pisik dan psikis serta didukung oleh potensi-potensi yang ada membuktikan bahwa manusia sebagai ahsan al-taqwin dan menempatkan manusia pada posisi yang strategis, yaitu :

1. Manusia Sebagai Hamba Allah
Musya Asy’arie[5] (dikutip oleh Ramayulis) mengatakan bahwa esensi hamba adalah ketaan,ketundukan dan kepatuhan yang kesemuanya itu hanya layak diberikan kepada tuhan. Ketundukan dan ketaatan pada kodrat alamiah yang senantiasa berlaku baginya.
Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Allah SWT berfirman :
Artinya : “maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Allah), tetaplah pada fitrah Allah yang tela menciptakan manusia menurut fitrah (agama) itu tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. 30 :30).
Manusia diciptakan Allah tidak lain kecuali agar menyembah kepada-Nya. Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah dan menghambakan diri kepada Allah yang disebut ibadah mahdlah, dan manusia juga wajib berhubugan dengan sesaman makhluk yang disebut ibadah ghairu mahdlah.
Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tatacara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur sampai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran islam.
ﻭ ﻤﺎ ﺧﻟﻗﺕ ﺍﻟﺟﻦﱠ ﻭ ﺍﻹﻧﺱ ﺍﻻﱠ ﻟﻳﻌﺑﺪﻭﻦ
Artinya : “dan Aku tidak menciptakana jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Zaariyaat : 56).
Dengan memahami surat adz-zariyat, hendaknya manusia dapat mengambil pelajaran bahwa[6] :

- Menyadari bahwa hidup di dunia bukanlah tujuan, melainkan sebagai kesempatan beramal baik untuk menuju hidup bahagia di akhirat kelak.

- Kesempatan hidup hendaknya dimanfaatkan untuk menghambakan diri kepada-Nya dalam seluruh aspek hidupny.

- Kenikmatan berupa kesenangan hidup di dunia jangan sampai melupakan tugas pokok hidup, yakni menghambakan diri kepada Allah semata.

Pengakuan manusia akan adanya tuhan secara naluriah menurut informasi al-Qur’an disebabkan telah terjadinya dialog antara Allah dan roh manusia tat kala ia berada di alam arwah. Firman Allah SWT :
Artinya : “Dan (ingatlah) Ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian mereka terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah Aku ini tuhanmu?”, mereka anak-anak Adam menjawab : ”Betul (Engkau tuhan kami) kami menjadi saksi….. (QS. 7 : 172).
Dengan demikian, kepercayaan dan ketergantungan manusia dengan tuhannya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri. Pengenalan dan pengabdian yang dilakukan manusia sebagai realisasi kepatuhan kepada tuhannya pada mulanya mereka lakukan sesuai dengan keterbatasan akalnya. Allah tidak ingin manusia berada selalu dalam kesesatan. Untuk itu Allah memperkenalkan manusia tentang dirinya melalui wahyu-Nya. Sehingga manusia dapat melaksanakan pengabdiannya sesuai aturan yang dikehendaki Allah. Allah juga mengutus para Rasul-Ny sebagai pemberi petunjuk kepada manusia mana yang harus mereka sembah sebenarnya. Lewat instingtif pengakuan akan adanya Zat Yang Menguasainya, akal, bimbingan wahyu (ajaran agama) yang disampaikan dengan perantaraan Rasul, manusia diharapkan  mampu mengenal khaliqnya lewat pengabdian yang ditunjukkannya dalam kehidupan.

Read Other

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2016. Educational Top Studies Files - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz